Pengertian Ghibah
Ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka (jika hal itu disebutkan). Baik dalam keadaan soal jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, ahlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya. Caranya-pun bermacam-macam. Di antaranya dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok.
Rirman Allah dalam Surat Al Hujurat
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (QS. Al Hujurat:12)
Contoh Ghibah
Banyak alasan yang menyebabkan seseorang berbuat ghibah. Di antara penyebabnya sebagai berikut.
- Dendam di dalam hati. Bermula dari rasa dendam, seseorang tidak sadar akan menyampaikan kemarahannya pada saatsaat tertentu.
- Mendukung atau menyesuaikan pembicaraan orang lain. Biasanya, ketika berkumpul bersama orang lain kita suka berbasa-basi dan berusaha menyesuaikan diri dengan tema pembicaraan yang sedang dibahas. Oleh karena merasa satu kepedulian, jika orang di sekitar membenci pada sosok yang dicela, kadang kita juga berusaha untuk turut mencelanya.
- Kekhawatiran akan dicela oleh orang lain sehingga perlu lebih dahulu untuk mencelanya agar mendapatkan dukungan orang lain.
- Hendak menunjukkan kelebihan diri sendiri dengan mengejek orang lain. Misalnya, seorang anak bernama Marwan berkata, ”Bacaan Al-Qur’an Sani jelek. Ia tidak pantas menjadi pembaca Al-Qur’an pada acara nanti. Saya lebih baik darinya.” Ungkapan ini dapat dipahami bahwa kemampuan Marwan dalam membaca Al-Qur’annya lebih baik daripada Sani. Mungkin Marwan berharap dapat mengganti peran Sani.
- Rasa dengki atas kesuksesan yang telah diraih orang lain. Dengki adalah penyakit hati yang ditunjukkan dengan perasaan benci kepada orang lain karena mendapatkan prestasi. Sanjungan, penghargaan, dan pujian diharapkan segera hilang dari orang tersebut.
- Sekadar bersenda gurau. Mungkin karena berharap ingin mengisi waktu luang kita lebih suka membicarakan kejelekan orang lain. Tujuannya bervariasi, dapat sebagai lelucon semata, bisa juga karena merasa ujub atau berbangga diri.
Ghibah di era Digital
Memperbincangkan orang lain alias gibah ikut mengalami revolusi seiring dengan berkembangnya dunia digital saat ini. Di Indonesia, media sosial sudah menjadi kebutuhan komunikasi masyarakat. Riset yang dilansir We Are Social menyebutkan, ada 79 juta pengguna Facebook asal Indonesia.
Sebanyak 41 persen di antaranya adalah kaum hawa. Meski jumlahnya masih kalah besar ketimbang pria, jumlah perempuan yang mencapai kisaran 32 juta jiwa bukan angka yang kecil. Besarnya populasi akun perempuan di Facebook bisa bermuatan positif atau negatif, bergantung kontennya.
Menulis sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka (jika hal itu dituliskan); baik dalam keadaan soal jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, akhlaknya, bentuk lahiriahnya dan sebagainya. Yaitu dengan cara menuliskan aib, membuat karikatur tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok adalah ghibah digital.
Ghibah digital ini sama dengan ghibah pada dasarnya, karena orang yang melihat atau membaca akan tidak suka, marah atau benci, bahkan bisa menimbulkan permusahan dan saling memutuskan silaturrahmi. Ini sangat dibenci dalam Islam, bahkan Allah Swt tidak akan memandang kepada orang yang memutuskan silaturrahmi kelak di akhirat dan Allah juga akan memutuskannya.
Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Sesungguhnya (kata) rahmi diambil dari (nama Allah) ar-Rahman. Allah berkata, “Barangsiapa menyambungmu (rahmi/kerabat), Aku akan menyambungnya; dan barangsiapa memutuskanmu, Aku akan memutuskannya.” (HR. Bukhari).
Perilaku ghibah berbahaya bagi kehidupan. Rasulullah melarang keras perbuatan menggunjing, bahkan menyamakannya dengan perbuatan memakan daging saudaranya sendiri. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sabdanya, pada hadis tentang ghibah berikut ini.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no. 2589).
Ghibah yang diperbolehkan
Ghibah dan menfitnah (menuduh tanpa bukti) sama-sama keharaman. Namun untuk ghibah dibolehkan jika ada tujuan yang syar’i yaitu dibolehkan dalam enam keadaan sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah. Enam keadaan yang dibolehkan menyebutkan ‘aib orang lain adalah sebagai berikut:
- Mengadu tindak kezaliman kepada penguasa atau pada pihak yang berwenang. Semisal mengatakan, “Si Ahmad telah menzalimiku.”
- Meminta tolong agar dihilangkan dari suatu perbuatan mungkar dan untuk membuat orang yang berbuat kemungkaran tersebut kembali pada jalan yang benar. Semisal meminta pada orang yang mampu menghilangkan suatu kemungkaran, “Si Rahmat telah melakukan tindakan kemungkaran semacam ini, tolonglah kami agar lepas dari tindakannya.”
- Meminta fatwa pada seorang mufti seperti seorang bertanya mufti, “Saudara kandungku telah menzalimiku demikian dan demikian. Bagaimana caranya aku lepas dari kezaliman yang ia lakukan.”
- Mengingatkan kaum muslimin terhadap suatu kejelekan seperti mengungkap jeleknya hafalan seorang perowi hadits.
- Membicarakan orang yang terang-terangan berbuat maksiat dan bid’ah terhadap maksiat atau bid’ah yang ia lakukan, bukan pada masalah lainnya.
- Menyebut orang lain dengan sebutan yang ia sudah ma’ruf dengannya seperti menyebutnya si buta. Namun jika ada ucapan yang bagus, itu lebih baik. (Syarh Shahih Muslim, 16: 124-125)
Cara Menghindari Ghibah.
Setelah mengetahui bahaya Ghibah, maka perlu kiranya kita berudaha untuk menghindari perbuatan ghibah, antara lain sebagai berikut :
- Menambah keimanan dan ketakwaan terhadap Allah Swt.
- Menghindari bergaul dengan orang yang suka gossip dan ghibah.
- Menggunakan etika dalam berbicara, agar tidak menyinggung sehingga melukai hati orang lain. Menggunakan waktu senggang Anda untuk kegiatan yang positif yang mengandung manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
- Jika Anda melihat orang lain sedang melakukan Ghibah atau menggunjing sebaiknya langsung menjauhinya, Agar Anda tidak terjerumus dan ikut melakukanya.
- Memperbanyak intropeksi diri sendiri sebelum mencari keburukan orang lain.
Semoga kita terjaga dari perbuatan ini. Aamiin.
