Halaman

    Social Items

SHOLAT SEBAGAI DIALOG DENGAN ALLOH

بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم 

 

SHOLAT SEBAGAI DIALOG DENGAN ALLOH--sholat ([sαlat'] bahasa Arab: صلاة; transliterasi: ṣalāt; variasi ejaan: shalat, solat, sholat) merujuk kepada ibadah pemeluk agama Islam. Menurut syariat Islam, praktik salat harus sesuai dengan segala petunjuk tata cara Nabi Muhammad sebagai figur pengejawantah perintah Allah. Umat muslim diperintahkan untuk mendirikan sholat karena menurut Surah Al-'Ankabut dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Shalat juga merupakan sarana kita untuk berdialog dengan Allah SWT. 

Syarat agar sholat kita bisa menjadi dialog menurut Imam Ghozali adalah sebagai berikut:
  1. Mengerti artinya
  2. Yang diajak dialok hadir dihadapanNya
  3. Sopan / tawadu' kepadaNya


Firman Alloh :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(QS  51:56)


Dalam Hadis Qud'si dijelaskan bahwa:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ. فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ، فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ، قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ، ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ".رواه الترمذي(1) وكذلك أبو داود والنسائي وابن ماجه وأحمد


Diriwayatkan dari  Abu  Hurairah r.a., beliau berkata, telah bersabda Rosululloh ﷺ, “Sesungguhnya perkara/amal seorang hamba yang dihisab pertama kali adalah sholatnya. Seandainya (sholatnya) baik, maka benar-benar paling beruntung dan paling sukses, dan seandainya (sholatnya) buruk, maka dia benar-benar akan kecewa dan merugi, dan seandainya kurang sempurna sholat fardlunya, Alloh 'azza wa jalla berfirman, 'lihatlah apakah bagi hambaku ini (ada amal) sholat sunnah (mempunyai sholat sunnah) yang bisa menyempurnakan sholat fardlunya,' kemudian begitu juga terhadap amal-amal yang lainnya juga diberlakukan demikian ”(Hadits diriwayatkan oleh at-Tirmidzi(1), dan begitu juga oleh Abu Dawud dan Imam An-Nasai dan Ibn Majah serta Imam Ahmad. )
1. sunan Tirmidzi hadits no. 413 juz 2 hal. 271, begitu juga dapat dibaca di kitab Misykatul mashaabiyh, hadits no. 1330-1331 juz 1, halaman 419, dan disahihkan oleh at-Tirmidzi .

Dalam melakukan kegiatan  sholat umumnya manusia terbagi menjadi 3 golongan:
  1. Orang yang menganggap sholat sebagai beban atau kewajiban. Ini adalah sholat yang umum dan paling banyak dilakukan orang, ia menganggap sholat sebagai kewajiban ritual yang harus dilakukan setiap hari. Ia merasa sholat sebagai beban  yang cukup mengganggu aktifitasnya sehari hari. Ia melakukan sholat dengan perasaan berat dan malas. Terkadang sholatnya dilakukan dengan asal-asalan, yang penting sudah melaksanakan sholat sesuai waktu yang ditetapkan. Umumnya mereka menunaikan sholat sudah diakhir waktu. Kadang kala mereka menggambung dua waktu sholat jadi satu tanpa alasan yang bisa dibenarkan. 
  2. Orang yang menganggap sholat sebagai kebutuhan. Kelompok ini sudah lebih meningkat  pemahamannya tentang sholat, ia sudah menyadari bahwa sholat itu dilakukan untuk keperluan dirinya, bukan untuk keperluan Allah ( Allah tidak butuh dengan sekalian alam). Ia melaksanakan sholat dengan ikhlas dan ridho, penuh harapan padaNya. Umumnya mereka mengerjakan sholat diawal waktu. Seringkali mereka mengerjakan sholat sunat baik sholat sunah rawatib maupun sholat malam dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Mereka yakin dengan sholat yang benar dan  khusu hidup jadi mudah.
  3. Orang yang menganggap sholat sebagai suatu kenikmatan. Ini adalah kelompok yang lebih tinggi lagi. Mereka sudah dapat merasakan nikmatnya  mengerjakan sholat. Mereka mengerjakan sholat dalam rangka bersenang senang  dan asyik berdialog dengan Allah. Mereka tidak merasa lelah mengerjakan sholat , walaupun  sampai  lama ( dalam bebeapa jam). Sebagaimana Rasulullah mengerjakan sholat malam sampai beberapa jam hingga kaki beliau bengkak. Dalam satu rakaat beliau biasa membaca surat yang panjang seperti surat Al-Baqarah, Ali Imran atau Al Maidah. 
Load Comments

Subscribe Our Newsletter