Halaman

    Social Items

بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

tafakur

MEMIKIRKAN CIPTAANNYA ALLAH--Fenomena penciptaan alam semesta beserta segala isinya adalah bukti nyata Kemahakuasaan Sang Khalik. Orang beriman sebagai makhluk yang berpikir disu ruh untuk merenungi, betapa hebat ke kuasaan Allah SWT yang telah menciptakan segala sesuatu.

Ahli agama dan filsafat tempo dulu sudah bertafakur tentang hakikat alam semesta. Banyak orang yang akhirnya me nyadari keberadaan Tuhan dengan merenungi ciptaan-Nya. Seperti Nabi Ibrahim AS yang juga menemukan Rabbnya melalui tafakur.

Firman Alloh memujinya dalam al-Quran:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Roob kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imron: 191)

Rasulullah SAW dalam Hadisnya juga mengatakan, 
“Merenung sesaat lebih besar nilainya daripada amal-amal kebajikan yang dikerjakan oleh dua jenis makhluk (manusia dan jin).” (HR Ibnu Majah). Artinya, Allah SWT lebih menghargai orang yang bertafakur dan menyadari hakikat dirinya sebagai makhluk dan Allah SAW sebagai Khalik. Ketimbang seseorang yang hanya sibuk beribadah tanpa menyadari untuk siapa ia melakukan itu.


Sahabat Nabi Abu Huroiroh juga mengatakan:

لأن أعلم باباً من العلم في أمر أو نهي أحب إلي من سبعين غزوة في سبيل الله عز وجل

“Saya memahami satu masalah ilmu, baik terkait perintah, ataupun larangan, lebih aku cintai dari pada 70 kali perang di jalan Alloh"

Hasan al-Bashri :

لأن أتعلم باباً من العلم فأعلمه مسلماً أحب إلي من أن تكون لي الدنيا كلها أجعلها في سبيل الله عز وجل

“Aku memahami satu masalah ilmu syariah, kemudian aku ajarkan ke muslim yang lain, lebih aku sukai dari pada aku memiliki dunia seisinya yan aku jadikan untuk infak fi sabilillah.”

Ibnu Abbas juga mengatakan,
تذاكر العلم بعض ليلة أحب إلي من إحيائها

“Belajar beberapa saat di malam hari, lebih aku sukai dari pada menghabiskan seluruh malam untuk shalat.” (Mushannaf Abdurrazaq, 11/253)

Imam Syafi’i, salah seorang imam mazhab, mengatakan, “Berpikirlah sebelum engkau mengucapkan janji, berpikirlah dengan mendalam sebelum engkau berbuat, bermusyawarahlah engkau sebelum memulai.” Dia juga berkata, “Empat perkara yang bermanfaat dan utama: (1) hikmah (kebijaksanaan) dan modalnya adalah berpikir (bertafakur); (2) sabar dan modalnya adalah mengendalikan dan menahan nafsu-syahwat; (3) ke-kuatan dan modalnya adalah menahan nafsu-amarah; dan (4) adil dan modalnya kelurusan din.”

Umat Islam disuruh untuk bertafakur dan merenungi ciptaan Allah dan dilarang untuk memikirkan Zat Allah SWT. Kerdilnya ilmu yang dimiliki manusia tidak akan sanggup untuk membahas Zat Allah yang Maha Luas. Alquran menegaskan, berpikir dan merenung tentang kejadian alam dengan segala fenomenanya ini dapat dijadikan tanda adanya sang Pencipta, yaitu Allah SWT.
Itulah beberapa ucapan bijak (atsar) tentang tafakur dari para ulama, sufi, dan wali pada generasi Islam awal. 

MEMIKIRKAN CIPTAANNYA ALLAH

بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

tafakur

MEMIKIRKAN CIPTAANNYA ALLAH--Fenomena penciptaan alam semesta beserta segala isinya adalah bukti nyata Kemahakuasaan Sang Khalik. Orang beriman sebagai makhluk yang berpikir disu ruh untuk merenungi, betapa hebat ke kuasaan Allah SWT yang telah menciptakan segala sesuatu.

Ahli agama dan filsafat tempo dulu sudah bertafakur tentang hakikat alam semesta. Banyak orang yang akhirnya me nyadari keberadaan Tuhan dengan merenungi ciptaan-Nya. Seperti Nabi Ibrahim AS yang juga menemukan Rabbnya melalui tafakur.

Firman Alloh memujinya dalam al-Quran:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Roob kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imron: 191)

Rasulullah SAW dalam Hadisnya juga mengatakan, 
“Merenung sesaat lebih besar nilainya daripada amal-amal kebajikan yang dikerjakan oleh dua jenis makhluk (manusia dan jin).” (HR Ibnu Majah). Artinya, Allah SWT lebih menghargai orang yang bertafakur dan menyadari hakikat dirinya sebagai makhluk dan Allah SAW sebagai Khalik. Ketimbang seseorang yang hanya sibuk beribadah tanpa menyadari untuk siapa ia melakukan itu.


Sahabat Nabi Abu Huroiroh juga mengatakan:

لأن أعلم باباً من العلم في أمر أو نهي أحب إلي من سبعين غزوة في سبيل الله عز وجل

“Saya memahami satu masalah ilmu, baik terkait perintah, ataupun larangan, lebih aku cintai dari pada 70 kali perang di jalan Alloh"

Hasan al-Bashri :

لأن أتعلم باباً من العلم فأعلمه مسلماً أحب إلي من أن تكون لي الدنيا كلها أجعلها في سبيل الله عز وجل

“Aku memahami satu masalah ilmu syariah, kemudian aku ajarkan ke muslim yang lain, lebih aku sukai dari pada aku memiliki dunia seisinya yan aku jadikan untuk infak fi sabilillah.”

Ibnu Abbas juga mengatakan,
تذاكر العلم بعض ليلة أحب إلي من إحيائها

“Belajar beberapa saat di malam hari, lebih aku sukai dari pada menghabiskan seluruh malam untuk shalat.” (Mushannaf Abdurrazaq, 11/253)

Imam Syafi’i, salah seorang imam mazhab, mengatakan, “Berpikirlah sebelum engkau mengucapkan janji, berpikirlah dengan mendalam sebelum engkau berbuat, bermusyawarahlah engkau sebelum memulai.” Dia juga berkata, “Empat perkara yang bermanfaat dan utama: (1) hikmah (kebijaksanaan) dan modalnya adalah berpikir (bertafakur); (2) sabar dan modalnya adalah mengendalikan dan menahan nafsu-syahwat; (3) ke-kuatan dan modalnya adalah menahan nafsu-amarah; dan (4) adil dan modalnya kelurusan din.”

Umat Islam disuruh untuk bertafakur dan merenungi ciptaan Allah dan dilarang untuk memikirkan Zat Allah SWT. Kerdilnya ilmu yang dimiliki manusia tidak akan sanggup untuk membahas Zat Allah yang Maha Luas. Alquran menegaskan, berpikir dan merenung tentang kejadian alam dengan segala fenomenanya ini dapat dijadikan tanda adanya sang Pencipta, yaitu Allah SWT.
Itulah beberapa ucapan bijak (atsar) tentang tafakur dari para ulama, sufi, dan wali pada generasi Islam awal. 

Load Comments

Subscribe Our Newsletter