بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
YANG TIDAK MAU MEMBACA, MEMAHAMI, MENGAMALKAN, DAN MENYAMPAIKAN " QUR'AN "--Al-Qur'an atau Qur'an (bahasa Arab: القرآن, translit. al-Qurʾān, har. 'bacaan'; /kɔːrˈɑːn/[a] kor-ahn), atau Alquran dan Quran dalam bentuk baku Ejaan bahasa Indonesia, adalah sebuah kitab suci utama dalam agama Islam, yang umat Muslim percaya bahwa kitab ini diturunkan oleh Tuhan, (bahasa Arab: الله, yakni Allah) kepada Nabi Muhammad. Kitab ini terbagi ke dalam 114 surah (bab) dan setiap surahnya terbagi ke dalam beberapa ayat.
Saat ini, lebih banyak kaum Muslim yang lebih cepat membaca koran dibanding kitab suci pegangan mereka sendiri. Padahal, membaca al-Qur’an merupakan ibadah yang paling utama dan dicintai Allah. Dalam hal ini para ulama sepakat, bahwa hukum membaca al-Qur’an adalah wajib ‘ain. Maknanya, setiap individu yang mengaku dirinya Muslim harus mampu baca al-Qur’an dengan baik dan benar. Kalau tidak, maka ia berdosa. Karena bagaimana mungkin kita mengamalkan al-Qur’an tanpa mau membaca dan memahaminya. Beriman terhadap al-Qur’an bukan sekedar percaya saja, namun mesti dibuktikan dengan implementasi yang nyata sebagai tuntutan dari iman tersebut yaitu membaca, memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Al-Qur’an merupakan pedoman, konsep, dan aturan hidup manusia. Dalam konteks hablum minallah, al-Qur’an mengatur relasi hamba dengan khaliqnya. Hubungan vertikal ini dalam bahasa syariat disebut ibadah seperti shalat, puasa, zakat dan haji.
Sedangkan dalam konteks hablum minannas, al-Qur’an menjelaskan tata cara pergaulan dan hubungan manusia dengan dirinya, manusia lain dan makhluk Allah lainnya. Hubungan horizontal ini dikenal dengan sebutan muamalah. Konkritnya, al-Qur’an memberi petunjuk bagaimana mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Mengamalkan al-Qur’an merupakan kewajiban bagi setiap muslim, bahkan menjadi syarat utama menjadi seorang yang beriman. Allah swt dan Rasul-Nya saw telah memerintahkan kita untuk mengamalkan ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah, agar kita selamat dunia dan akhirat. Bahkan Rasulullah saw mengingatkan kita akan penting pengamalan terhadap al-Qur’an dan sunnah Rasul saw dengan sabdanya,
“Aku tinggalkan kepada kamu sekalian dua hal, jika kamu berpegang teguh kepada keduanya niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu al-Qur’an dan Sunnah Rasul saw.” (H.R. At-Tirmizi)
Firman Alloh (QS 7:179)
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ
كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ [٧:١٧٩]
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. QS. Al A'raf 179)
Pada ayat ini dijelaskan mengapa seseorang tidak mendapat petunjuk dan mengapa pula yang lain disesatkan. Dan demi keagungan dan kekuasaan kami, sungguh, akan kami isi neraka jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia karena kesesatan mereka. Hal itu karena mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah dan mereka memiliki mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengarkan ayat-ayat Allah. Mereka layaknya seperti hewan ternak yang tidak menggunakan akal yang diberikan Allah untuk berpikir, bahkan mereka sebenarnya lebih sesat lagi dari binatang, sebab, binatang itu dengan instingnya akan selalu mencari kebaikan dan menghindari bahaya, sementara mereka itu malah menolak kebaikan dan kebenaran yang ada. Mereka itulah orang-orang yang lengah. Demikianlah, seseorang terjerumus ke dalam neraka karena mengabaikan tanda-tanda keesaan Allah dan tidak mengingat-Nya. Maka pada ayat ini, Allah mengingatkan agar kita tidak melalaikannya dan selalu memanggil-Nya dengan nama-nama-Nya yang terbaik. Dan hanya Allah yang memiliki al-asma'' al-husna', yakni nama-nama terbaik yang menunjukkan keagungan dan kemahasempurnaan-Nya, maka berdoalah dan bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya, yaitu al-asma' al husna' itu. Dan tinggalkanlah serta waspadalah terhadap orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dengan menyalahartikan nama-nama-Nya. Jangan dihiraukan orang-orang yang menyembah Allah dengan menyebut nama-nama yang tidak sesuai dengan sifat-sifat keagungan Allah, atau dengan memakai al-asma' al-husna', tetapi dengan maksud menodai nama Allah atau mempergunakan al-asma' al-husna' untuk nama-nama selain Allah. Mereka kelak, di dunia atau di akhirat, akan mendapat balasan yang sesuai dengan kadar kedurhakaan mereka disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.
SEBUAH ANEKDOT YG SANGAT MENYEDIHKAN
Suatu ketika dua orang yahudi sedang berdiskusi,
A : Saya Ingin menulis buku tentang rahasia yahudi dapat menguasai dunia.
B : Saya tidak setuju "Jangan kau tuliskan rahasia keberhasilan kita jadi sebuah buku, jika umat Islam membacanya bisa-bisa mereka berhasil dan mengancam posisi kita"
A : Jangan khawatir "Tidak mengapa kita menulis buku tentang rahasia sukses yahudi, jika dicetak pun orang Islam tdk akan membacanya. Karena mereka tdk suka membaca"
B : Kalo mereka membaca bagaimana..?
A : Jangan kuatir ! "Jika mereka membaca pun, kita tdk perlu khawatir, karena mereka tdk suka berfikir …".
B : "Tapi bagaimana jika ada diantara mereka yg membaca dan mau memikirkannya ?" …
A : "Tenang saja & tidak perlu khawatir … meski mereka membaca & memikirkannya, tdk akan menjadi apa apa juga … karena mereka tdk akan mau mengerjakannya"
B : Diam sejenak sambil menarik napas. Lalu bertanya kepada A "Mengapa kamu begitu yakin ?".
Dengan tenang A Menjawab, "Lihat saja, apa yg mereka lakukan terhadap Kitab Suci mereka. Mereka hanya jadikan pajangan, mainan, perlombaan dan maskawin. Kalau saja mereka Membaca, Memikirkan dan Mengerjakannya… tentu mereka, Umat Islam yang SUDAH MENGUASAI DUNIA LEBIH DULU ".
Membaca Al-Quran
Seorang muslim wajib bisa membaca Al-Quran, setidaknya mengucapkan lafadz surat Al-Fatihah. Sebab lafadz ini menjadi rukun shalat 5 waktu. Tanpa membaca surat ini dengan benar, maka shalatnya tidak sah.
Namun lepas dari urusan wajib, pendeknya membaca Al-Quran sangat dianjurkan untuk dilakukan oleh setiap muslim, baik di dalam shalat atau di luar shalat.
Di antara hadits yang menjadi dasar anjuran dan keutamaan kita membaca Al-Quran adalah:
1. Menjadi Syafaat di Hari Kiamat
Dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Bacalah Al-Quran sebab Al-Quranakan datang pada hari kiamat sebagai sesuatu yang dapat memberikan syafaat (pertolongan) kepada orang-orang yang mempunyainya." (HR Muslim)
2. Hidup Bersama Para Malaikat
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Orang yang membaca al-Quran dan ia sudah mahir dengan bacaannya itu, maka ia adalah beserta para malaikat utusan Allah yang mulia lagi sangat berbakti, sedang orang yang membacanya al-Quran dan ia terbata-bata dalam bacaannya (tidak lancar) juga merasa kesukaran di waktu membacanya itu, maka ia dapat memperoleh dua pahala." (HR Bukhari Muslim)
3. Membaca Satu Huruf Mendapat 10 Kebajikan
Dari Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Orang yang membaca sebuah huruf dari kitabullah (Al-Quran), maka ia memperoleh suatu kebaikan, sedang satu kebaikan itu akan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang seperti itu. Saya tidak mengatakan bahwa alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif adalah satu huruf, lam satu huruf dan mim juga satu huruf."(HR Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih)
4. Mendapat Ketenangan, Rahmat, Malaikat dan Disebut-sebut Namanya
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah untuk melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an dan mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, akan dilingkupi pada diri mereka dengan rahmat, akan dilingkari oleh para malaikat dan Allah pun akan menyebut (memuji) mereka pada makhluk yang ada di dekat-Nya.“ (HR Muslim)
Membaca Al-Quran Tapi Melanggar Larangan
Yang paling parah dan harus segera dicegah adalah orang yang pandai membaca Al-Quran, bahkan rajin membacanya, tetapi rajin juga mengerjakan kemungkaran dan maksiat.
Pemandangan ini sesekali bisa kita saksikan di tengah kerancuan beragama di negeri kita. Ada orang yang bahkan sudah jadi Qari', dalam arti pandai baca Quran dengan merdu, fasih dan lancar. Tapi kadang kelakuannya masih saja terbawa arus jahili. Entah dia pacaran, buka aurat, atau malah ikut kegiatan yang berlawanan dengan syariat Islam.
Atau bahkan melakukan syirik karena datang ke dukun, peramal, memelihara dan menghamba kepada jin, percaya kepada hari naas, ber tathayyur.
Ini semua karena pengajaran Al-Quran tidak seimbang dengan pengajaran isi ajarannya. Akibat pemilahan mata pelajaran Al-Quran, di mana ilmu tilawah dibuat terpisah dengan ilmu tafsir. Sehingga muncullah orang yang pandai baca Al-Quran tapi tidak paham makna dan tafsirnya. Ilmunya boleh dibilang sepotong-sepotong.
Begitu pula kita mampu membaca majalah yang tebalnya seperempat atau sepertiga al-Qur’an dalam waktu beberapa jam, namun giliranya membaca al-Qur’an kita tidak mampu membaca beberapa juz dalam waktu yang sama. Bahkan kita mampu membaca dan mengkhatamkan buku novel, komik dan roman yang tebalnya sama dengan al-Qur’an dalam waktu seminggu, namun kita tidak mampu mengkhatamkan al-Qur’an dalam waktu yang sama, bahkan sebulan sekalipun. Inilah kondisi iman kita saat ini yang sangat lemah dan kritis.
Banyak kaum Muslim –bahkan lulusan S2, S3, bergelar profesor sekalipun– tak pernah sekalipun baca al-Quran. Jutaan kaum Muslim masih tidak mengerti hukum-hukum Islam yang hanya berskala kecil-kecil untuk kebutuhan mereka sendiri. Padahal dalam al-Quran, semuanya sudah tertuang sangat lengkap. Karena itu, jangan heran di berbagai media; seperti TV, Radio, koran atau majalah dipenuhi pertanyaan masalah hukum agama yang mengulang-ulang dari tahun ke tahun. Sebut saja, pertanyaan seputar hukum zakat, thahara, dll. Padahal, jika kaum Muslim mau merelakan waktunya membaca dan memahami al-Quran, mereka akan paham kandungannya.
Yang terjadi sebaliknya, mengaku Muslim, tetapi selalu awam urusan kaum Muslim sendiri. Sungguh memalukan!
