Saat membutuhkan pertolongan Allah, sadarilah bahwa ada cara yang perlu kita tempuh. Jangankan pada Allah, minta tolong ke manusia saja pasti ada etikanya kan? Demikian juga ketika kita menginginkan pertolongan Allah.
Dalil :
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah bersabda :
ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُم : الْمُجَاهِدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُكَاتَبُ يُرِيدُ الأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ يُرِيدُ الْعَفَافَ
“Tiga orang yang pasti Allah akan menolong mereka : Orang yang berjihad di jalan Allah, Mukatab (budak yang ingin menebus dirinya) dan orang yang menikah dengan tujuan menjaga kehormatan dirinya” (HR Tirmidzi 4/184, Nasa’i 6/61, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 2/160. Imam Tirmidzi mengatakan : hadits hasan, Al-Hakim menyatakan shahih berdasarkan syarat Imam Muslim)
Syarah Dalil :
Maksud dari lafal حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُم adalah pertolongan Allah untuk mereka merupakan sebuah kepastian atau kewajiban. Sesuatu yang tidak mungkin luput. Hal ini sejalan dengan firman Allah:
“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk)” (QS Al-Baqoroh 40)
Juga dalam ayat lainnya:
“Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji” (QS Ali Imron 194)
Dan masih banyak lagi ayat yang menjelaskan bahwa Alloh adalah Dzat Yang Maha Menepati Janji. Jika Allah senantiasa memberikan pertolongan bagi semua hamba-hambaNya, baik itu pertolongan dalam kesempitan, pertolongan dalam permintaan, juga pertolongan berupa kemudahan dalam melaksanakan ketaatan.. Maka dalam kasus ini Allah menekankan pertolongannya pada tiga golongan yang tersebut dalam hadits.
Diatara Faidah dari Hadits tersebut adalah :
- Hadits yang mulia ini menunjukkan bahwa tiga perkara tersebut adalah urusan-urusan yang berat, seandainya Allah Jalla wa 'Alaa tidak menolong seorang hamba maka ia tidak akan sanggup mengerjakannya, bahkan seorang hamba senantiasa membutuhkan pertolongan Alloh Jalla wa 'Alaa dalam seluruh urusannya.
- Mana diantara 3 golongan tersebut yang paling berat? Ath-Thibi rahimahullah berkata, “Dan yang paling berat adalah menjaga kesucian diri dari perzinahan, karena itu berarti memutus syahwat alamiah yang melekat kuat dalam diri seseorang” [Tuhfatul Ahwadzi, 5/242] Berarti menikah untuk menjaga kehormatan, agar terhindar dan terjerumus dari fitnah syahwat merupakan sesuatu yang layak diprioritaskan.
- Besarnya pahala dari tiga amalan tersebut.
- Anjuran untuk menolong orang yang mengamalkannya, baik dengan harta ataupun yang lainnya.
- Orang yang menolong mereka akan mendapatkan pahala seperti mereka.
Mujahid di Jalan Allah
Jihad adalah bersungguh-sungguh. Bentuknya tidak selalu mengangkat senjata, tetapi memang itulah yang utama jika dibutuhkan. Maka, jihad bisa berupa dakwah dengan lisan, tulisan, ataupun bidang lain yang dilakukan dengan kesungguhan dalam menyebarkan agama Allah Ta’ala kepada seluruh umat manusia.
Maka dalam salah satu sabdanya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyebutkan mereka yang menuntut ilmu senantiasa diganjari jihad di jalan Allah Ta’ala hingga dia pulang. Begitupun dengan orang-orang yang mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan anak-anak dan istri-istrinya agar tidak menjadi peminta-minta; Allah Ta’ala berikan ganjaran mujahid baginya.
Karena jihad identik dengan perang fisik dengan senjata, maka kaum muslimin harus mempersiapkan diri ketika hal ini diwajibkan. Pasalnya, penjajahan terhadap kaum muslimin telah terjadi di berbagai belahan bumi. Mulai dari Gaza Palestina, Suriah, Moro, Pattani, Rohingnya, pun Mesir dengan rezim diktatornya.
Persiapan menghadapi jihad ini juga harus dilakukan dengan pendekatan diri kepada Allah Ta’ala secara intensif. Sebab kekuatan fisik para mujahid di medan juang sangat dipengaruhi kualitas kedekatannya kepada Allah Ta’ala Yang Mahakuat. Pun sebaliknya.
Maka kita dapati musuh-musuh Allah Ta’ala itu, fisiknya besar dan kekar, tetapi tidak tahan lama sebab ketergantungannya pada makanan dan hal duniawi lainnya. Sedangkan kaum muslimin, sumber kekuatannya ada pada dzikir dan kekuatan ruhaninya.
Kabar gembiranya, dalam rangka persiapan itu, penting bagi kaum muslimin untuk memulai berniat dan senantiasa memperbarui niat. Sebab, dalam sebuah hadits disebutkan, Siapa yang berniat sungguh-sungguh untuk berjihad, ia akan digolongkan sebagai mujahid, meski mati di atas tempat tidur
Menikah untuk menjalankan sunnah
Menikah untuk menjalankan sunnah bentuknya bisa untuk menjauhi zina, menjaga diri dari syahwat yang menjerumuskan. Sebab itulah jalan yang ditempuh oleh setan terlaknat untuk menjebloskan manusia ke dalam siksa neraka.
Menjaga diri dari zinia di zaman ini memerlukan perjuangan yang amat berat. Pasalnya ajakan untuk berzina sudah merangsek masuk ke dalam semua lini kehidupan dengan sangat massif dari segala penjuru, mulai yang sembunyi-sembunyi hingga terang-terangan.
Bentuknya pun semakin beragam, mulai kampanye belanja di pusat perbelanjaan dengan pelayan maupun pengunjung yang membuka aurat, hingga melalui lagu-lagu berlirik maksiat maupun syahwat yang diputar di berbagai sudut.
Selain yang berada di luar rumah, bisikan-bisikan zina juga masuk ke dalam rumah melalui perangkat elektronik yang kita miliki. Baik itu tayangan televisi dengan iklan dan tayangan selebritis yang berpakaian ala tarzan, maupun diiklankan secara gratis melalui hand phone ataupun gadget yang hampir dua puluh empat jam berada dalam genggaman.
Karena itulah, menikah untuk menjaga diri amat dianjurkan. Apalagi, syahwat hanya bisa diredam dengan syariat yang disunnahkan oleh Rasulullah dalam pernikahan ini. Bukankah saat Nabi tergoda di jalan, beliau langsung mendatangi istrinya untuk melampiaskannya kepada yang haq dan berpahala? Maka wajar, jika siapa yang menikah demi menjaga kesucian diri, baginya layak mendapatkan predikat golongan yang pasti ditolong Allah Ta’ala.
Budak yang Ingin Menebus Dirinya
Ketika seseorang menjadi budak, dipastikan kehidupan pribadi dan ibadahnya juga dibatasi, bahkan dilarang. Sebagaimana dialami oleh Bilal bin Rabah Radhiyallahu ‘anhu yang sembunyi-sembunyi dalam mengesakan nama Allah Ta’ala sebab majikannya kafir.
Barulah ketika dibebaskan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq, Bilal bin Rabah bisa beribadah dengan leluasa dan menjadi salah satu sahabat kesayangan juga muadzin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
Sayangnya, tidak semua budak memiliki tabiat seperti Bilal bin Rabah. Bahkan, dalam kehidupan yang katanya kian modern ini, saat seseorang terbebas dari perbudakan dalam berbagai macam bentuknya, mereka justru terjerumus dalam perbudakan lain; disadari ataupun tidak.
Alhasil, kemerdekaan yang seharusnya dimaknai untuk menyembah Allah Ta’ala secara leluasa berbalik menjadi menyekutukan Allah Ta’ala secara leluasa, sebebas-bebasnya. Bahkan saking bebasnya, kesyirikan itu dilakukan secara massif di segala lini kehidupan.
Semoga Allah Ta’ala menolong kita dari kesyirikan. Semoga Allah Ta’ala melindungi diri dari dosa dan maksiat. Semoga Allah Ta’ala menguatkan kita dalam taat dan taqwa. Semoga Allah Ta’ala melindungi diri dan keluarga kita dari segala jenis dosa.
Dan kelak, semoga Allah Ta’ala mematikan kita dalam keadaan khusnul khatimah, dalam berislam, saat mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illallah Muhammadan Rasulullah.
---
