Halaman

    Social Items

 

Ketika Masjid Ditutup !
Jangan kalian sedih atas ditutupnya masjid-masjid, namun sedihlah terhadap hati yang telah tertutup. Janganlah menuntut dibukanya pintu-pintu masjid sebelum melakukan amalan yang dapat membuka hati dan membuka gembok yang mengunci hati. 

Walaupun kebatilan merobohkan setiap masjid dan setiap tempat-tempat yang disucikan didalam islam, maka sekali-kali tidak akan pernah memudlorotkan agama sedikitpun. Dulu mereka sungguh telah melakukan nya dan merobohkan segala sesuatu yang menunjukan syiar agama, semua muka bumi dipenuhi kesyirikan, lalu sayiduna Ibrohim Alaihis Salam mengguncangkan  datang dengan akal dan hati yang selamat, beliau menyebarkan tauhid dan membelanya, dikala itu tak ada satupun masjid di muka bumi. 

Oleh sebab itu agama tidaklah dapat dimenangkan dengan banyaknya masjid dan keselamatanya. Akan tetapi agama itu hanya dapat dimenangkan dengan selamatnya hati dan gemparnya perkataan yang haq. 
Sungguh sudah beberapa lama hingga saat ini masjid-masjid dihiasi sedemikian rupa, namun belom pernah kita melihat tertolongnya al haq, bahkan kita melihatnya masjid-masjid dikuasai oleh para imam-imam yang sesat dan menyesatkan. 

Maka yang paling wajib adalah membebaskan masjid-masjid dari para imam - imam yang sesat sebelum bersedih lantaran ditutup. 

Yang wajib membebaskan mimbar Rosululloh sholallohu alaihi was salam dan perkataan haq diatasnya dengan segenap kekuatan, serta membuka hati sebelum membuka pintu-pintu masjid. 

Dan tidak ada gunanya pintu masjid terbuka namun hati tertutup.

Akhukum Fiellah Al Faqier Ilalloh Ta'ala غفر الله له و والديه 

Barokallohu Fiekum

Ketika Masjid Ditutup

Renungan tentang Corona
Negara Indonesia menjadi salah satu negara yang terpapar virus Corona atau COVID-19.
Sejumlah pasien positif terjangkit virus corona di Indonesia kini semakin bertambah dari hari kehari.
Pemangku kebijakan dalam hal ini Pemerintah dan otoritas setempat sudah mencanangkan himbauan untuk melakukan segala aktivitas dari rumah, mulai dari bekerja, belajar,  beribadah hingga masyarakat dihimbau untuk mengisolasi diri di rumah.

Menghadapi kasus korona masih banyak masyarakat kita bermain-main dengan bercanda bahwa Corona bisa ditangkal dengan wudhu. Ucapan ini tanpa ilmu, dan hanya akan menjadikan Syari'at yang mulia yang akan diolok-olok dan direndahkan.

Dahulu ketika wabah Tha'un melanda penduduk Syam sahabat-sahabat terbaik ikut terbunuh di dalamnya seperti Mu'adz bin Jabal, Abu Ubaidah, dan Yazid bin Abi Sufyaan radhiyallahu 'anhum. Apakah mereka ini orang-orang yang tidak pernah wudhu, tidak shalat...?
Ingatlah wabah itu menyebar tidak mengenal muslim atau non muslim. Karena itu bersungguh-sungguhlah untuk mengambil sebab pencegahan dan berdoalah.

Bicaralah dengan dalil dan jangan menyandarkan tawakal tapi menghilangkan sebab-sebab pencegahan, seperti sebagian qaum muslimin yang masih suka ke mall-mall dan berwisata di tengah wabah dan banyak keluar tanpa kebutuhan lalu menyandarkan wudhu dan shalat akan mencegah virus. Ini tidaklah dikatakan tawakal.

Dan sebagian lagi terlalu takut yang berlebihan seolah-olah penyakit itu menular dengan sendirinya. Ini juga bahaya yang dapat menyeret pada kesyirikan. Dan ahlussunnah itu bertawakal dengan mengambil sebab pencegahan, berdo'a dan baru bertawakal.

Sehubungan dengan Global Pandemi Convid-19, ada kisah dari dunia Islam yang menarik untuk direnungkan.

Wabah Penyakit dalam Sejarah Islam & Bagaimana Menyikapinya
Hari ini umat manusia dihadapkan pada masalah bumi ini, sebuah virus/wabah yang tak terlihat.  Tapi membuat seisi bumi takut. Yang membuat semua kekuatan, senjata, dan kesombongan bertekuk lutut, lumpuh, dihadapan kekuasaan Allah subhanahu wata'ala. Memang begitulah sunatullahnya, 
Allah subhanahu wata'ala menghancurkan tingginya kesombongan dunia dengan sesuatu yang kecil.

Agar runtuh dengan sehina-hinanya, seperti Namrud yang mati hina karena seekor lalat. 
Tapi masalah bumi ini adalah masalah muslimin juga. Bagaimana kita bersikap?
Karena hari ini sebagian saudara kita menganggap remeh dengan pasrah saja
Indahnya agama ini, karena semua masalah sudah ada solusinya.

Dan Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersama para sahabatnya adalah orang-orang paling berjasa dalam hidup kita. Dalam kebingungan kita hari ini pun mereka semua hadir dengan petunjuknya. Bukan hanya itu, tapi mereka juga hadir membawa kabar gembira untuk kita. Kisah ini detail diceritakan dalam buku tentang khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu karya Syaikh Ali Ash Shalabi.

Tahun 18 H. Hari itu Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu bersama para sahabatnya berjalan dari Madinah menuju negeri Syam. Mereka berhenti di daerah perbatasan sebelum memasuki Syam karena mendengar ada wabah Tha'un Amwas yang melanda negeri tersebut. Sebuah penyakit menular, benjolan di seluruh tubuh yang akhirnya pecah dan mengakibatkan pendarahan. Abu Ubaidah bin Al Jarrah, seorang yang dikagumi Umar radhiyallahu 'anhu, sang Gubernur Syam ketika itu datang ke perbatasan untuk menemui rombongan.

Dialog yang hangat antar para sahabat, apakah mereka masuk atau pulang ke Madinah. Umar yang cerdas meminta saran muhajirin, anshar, dan orang-orabg yang ikut Fathu Makkah. Mereka semua berbeda pendapat.
Bahkan Abu Ubaidah radhiyallahu 'anhu menginginkan mereka masuk, dan berkata mengapa engkau lari dari takdir Allah subhanahu wata'ala.

Lalu Umar radhiyallahu 'anhu menyanggahnya dan bertanya. Jika kamu punya kambing dan ada 2 lahan yang subur dan yang kering, ke mana akan engkau arahkan kambingmu? Jika ke lahan kering itu adalah takdir Allah, dan jika ke lahan subur itu juga takdir Allah. Sesungguhnya dengan kami pulang, kita hanya berpindah dari takdir satu ke takdir yang lain. Akhirnya perbedaan itu berakhir ketika Abdurrahman bin Auf 'radhiyallahu anhu mengucapkan hadist Rasulullah shallallahu alayhi wasallam. 

"Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada didaerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya." (HR. Bukhari & Muslim)

Akhirnya mereka pun pulang ke Madinah. Umar radhiyallahu 'anhu merasa tidak kuasa meninggalkan sahabat yang dikaguminya, Abu Ubaidah radhiyallahu 'anhu. Beliau pun menulis surat untuk mengajaknya ke Madinah. Namun beliau adalah Abu Ubaidah radhiyallahu 'anhu, yang hidup bersama rakyatnya dan mati bersama rakyatnya. Umar pun menangis membaca surat balasan itu.

Dan bertambah tangisnya ketika mendengar Abu Ubaidah, Muadz bin Jabal, Suhail bin Amr, dan sahabat-sahabat mulia lainnya radiyallahuanhum wafat karena wabah Tha'un dinegeri Syam. Total sekitar 20 ribu orang wafat, hampir separuh penduduk Syam ketika itu.

Pada akhirnya, wabah tersebut berhenti ketika sahabat Amr bin Ash radhiyallahu 'anhu memimpin Syam. Kecerdasan beliaulah yang menyelamatkan Syam. Hasil tadabbur beliau dan kedekatan dengan alam ini. Amr bin Ash berkata: "Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Jaga jaraklah dan berpencarlah kalian dengan menempatkan diri di gunung-gunung".
Mereka pun berpencar dan menempati gunung-gunung. Wabah pun berhenti layaknya api yang padam karena tidak bisa lagi menemukan bahan yang dibakar.

Berkaitan dengan kisah diatas, marilah kita belajar dari bagaimana orang-orang terbaik dizaman itu bersikap. Maka inilah panduan dan kabar gembira di tengah kesedihan ini untuk kita semua

Pertama, karantina.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alayhi wasallam di atas. Maka itulah konsep karantina yang hari ini kita kenal. Mengisolasi daerah yang terkena wabah. Seluruh negara menjalaninya.

Kedua, bersabar.
Karena Rasulullah SAW bersabda:
"Tha'un merupakan azab yang ditimpakan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Kemudian Dia jadikan rahmat kepada kaum mukminin. Maka, tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah lalu ia menetap dikampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah subhanahu wata'ala tetapkan, baginya pahala orang yang mati syahid"
(HR. Bukhari dan Ahmad)
Masya Allah. Ternyata mati syahidlah balasan itu. Sesuatu yang didambakan kaum muslimin. Maka, sabar dan tanamkanlah keyakinan itu. Jika takdir Allah menyapa kita, berharaplah syahid.

Ketiga, berbaik sangka dan berikhtiarlah.
Karena Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda:

"Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya." (HR. Bukhari)
Umar bin Khattab berikhtiar menghindarinya serta Amr bin Ash berikhtiar menghapusnya.

Yang keempat, banyak berdoalah.
Dan doa2 keselamatan itu sudah kita lafadzkan di setiap pagi dan sore:

"Bismillahilladzi laa yadhurru ma'asmihi, say'un fil ardhi walafissamaai wahuwa samiul'alim"

(Dengan nama Allah yang apabila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak berbahaya. Dialah maha mendengar dan maha mengetahui)

Barang siapa yang membaca dzikir tersebut 3x di pagi dan petang. Maka tidak akan ada bahaya yg memudharatkannya. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Yang terakhir, sebagaimana solusi dari Amr bin Ash untuk berpencar. Menjaga jarak dari keramaian dan menahan diri untuk tetap di rumah Cara inilah yang banyak ditiru dunia luar, mereka menyebutnya social distancing.
Semua solusi itu sudah ada. Solusi langit dan Bumi 
Solusi pertama dan terakhir, solusi Bumi
Ikhtiar dengan karantina dan menjaga diri dari keramaian (social distancing). Selama ini sudah dilakukan bahkan oleh orang-orang di dunia barat.

Namun mereka tidak punya solusi Langit. Bersabar, keyakinan dan berbaik sangka akan ketetapan Allah, berdoa, dan bahkan janji akan gelar mati Syahid jika kita melakukan itu semua.

Semoga kita senantiasa dilindungi Allah shallallahu alayhi wasallam. Dan bertemu kembali di tempat terbaik di SurgaNya.
Mari kita sikapi datangnya Pandemi Convid-19 ini secara rasional dan terukur, tidak abai.

Renungan tentang Corona

MENGHADAPI WABAH CORONA
Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut, sampai kematian.

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini bisa menyerang siapa saja, baik bayi, anak-anak, orang dewasa, lansia, ibu hamil, maupun ibu menyusui.

Infeksi virus ini disebut COVID-19 dan pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke wilayah lain di Cina dan ke beberapa negara, termasuk Indonesia.

Coronavirus adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti infeksi paru-paru (pneumonia), Middle-East Respiratory Syndrome (MERS), dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Gejala Virus Corona
Infeksi virus Corona atau COVID-19 bisa menyebabkan penderitanya mengalami gejala flu, seperti demam, pilek, batuk, sakit tenggorokan, dan sakit kepala; atau gejala penyakit infeksi pernapasan berat, seperti demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah, sesak napas, dan nyeri dada.

Namun, secara umum ada 3 gejala umum yang bisa menandakan seseorang terinfeksi virus Corona, yaitu:
Demam (suhu tubuh di atas 38 derajat Celcius)
Batuk
Sesak napas

Menurut penelitian, gejala COVID-19 muncul dalam waktu 2 hari sampai 2 minggu setelah terpapar virus Corona.

Pandangan Islam terhadap Corona
QS. At-Tagābun : 11

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Alloh; dan barang siapa beriman kepada Alloh, niscaya Alloh akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu.

Nabi menjanjikan sebagai mati syahid, karena malaikat menyaksikan masuk ke surga:

” اﻟﺸﻬﺪاء ﺧَﻤْﺴَﺔٌ: اﻟﻤَﻄْﻌُﻮﻥُ، ﻭَاﻟﻤَﺒْﻄُﻮﻥُ، ﻭَاﻟﻐَﺮِﻳﻖُ، ﻭَﺻَﺎﺣِﺐُ اﻟﻬَﺪْﻡِ، ﻭَاﻟﺸَّﻬِﻴﺪُ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ اﻟﻠَّﻪِ “

Syuhada ada 5 :
1. orang yang meninggal karena wabah penyakit menular,
2. meninggal karena sakit perut,
3. mati tenggelam,
4. mati kejatuhan benda berat dan
5. Syahid perang di jalan Alloh” (HR Bukhori)

diriwayatkan dalam hadits berikut ini:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya: "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhori)

Hadist yang dinarasikan Abdullah bin 'Amir mengatakan, Umar kemudian tidak melanjutkan perjalanan. Berikut haditsnya:

أَنَّ عُمَرَ، خَرَجَ إِلَى الشَّأْمِ، فَلَمَّا كَانَ بِسَرْغَ بَلَغَهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّأْمِ، فَأَخْبَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ "‏ إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ ‏"‏‏

Artinya: "Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi Muhammad SAW pernah berkata, "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhori).


Wabah Tha'un sebagaimana disabdakan Rosululloh saw adalah wabah penyakit menular yang mematikan, penyebabnya berasal dari bakteri Pasterella Pestis yang menyerang tubuh manusia.

Jika umat muslim menghadapi hal ini, dalam sebuah hadits disebutkan janji surga dan pahala yang besar bagi siapa saja yang bersabar ketika menghadapi wabah penyakit.

‏ الطَّاعُونُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya: "Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya). (HR Bukhori)


Menurut Ibnu Qayyim, tindakan Nabi melarang umatnya masuk ke lokasi wabah adalah bentuk pencegahan yang memang dianjurkan oleh Alloh, yakni mencegah diri kita untuk tidak masuk ke lokasi dan lingkungan yang membawa derita.

Sementara itu, melarang keluar dari lokasi wabah mengandung dua maksud.

  • Pertama, mendorong jiwa manusia untuk percaya kepada Alloh, bertawakal kepada-Nya, serta tabah dan ridho menghadapi takdirnya. 
  • Kedua, seperti dinyatakan oleh para pakar kedokteran, apabila seseorang ingin menjaga diri dari wabah penyakit, ia harus mengeluarkan sisa-sisa kelembapan dalam tubuh, melakukan diet, menjaga keringnya tubuh, kecuali olahraga dan mandi. Keduanya harus betul-betul dihindari secara total karena tubuh penderita pada umumnya tidak lepas dari berbagai unsur jahat yang tersembunyi di dalam tubuh. Semua unsur itu akan menggeliat bila seseorang melakukan olahraga atau mandi.

Semoga Allah segera memberi kesembuhan kepada yg diberi sakit, mengampuni yg sudah meninggal dunia dan memberikan rasa takut dan bisa lebih mendekatkan diri pada Allah SWT semata yg memberikan apa yg kita minta dan tidak kita minta.

MENGHADAPI WABAH CORONA

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Anak2 senang libur sekolah 14 hari? sayangnya banyak orang tidak memahami. 

Mengapa 14 hari dan untuk apa, maklum himbauan itu tanpa disertai penjelasan yg memadai.

14 hari itu sangat penting dan harus disertai tindakan kepatuhan.
14 hari itu mampu menghentikan laju penularan Covid-19.
14 hari itu mampu menyelamatkan ribuan orang.

Mengapa?
Penjelasannya demikian,
-Ketika seseorang kontak dgn apapun yg bisa menginfeksinya dgn Covid-19, maka harus ditunggu 14 hari minimal, jika tidak terjadi apa2, maka orang itu aman.
-Libur 14 hari untuk memotong rantai penularan, ini baru akan berhasil jika semua orang tetap tinggal di rumah masing2 selama 14 hari itu, kenapa?

Contoh, seorang anak mulai libur tgl 16 Maret selama 14 hari, dia akan masuk sekolah lagi pd hari ke-15. Ternyata anak ini dan keluarganya menggunakan waktu libur itu untuk jalan2, mengunjungi kumpulan orang, atau ketempat saudara, ke mall dll, seandainya dia jalan2 di hari ke 10 dan terlular Covid-19 di tempat yg ia kunjungi, mungkin pada hari ke 14/15 belum ada tanda2 dia sakit, tetapi dia sudah membawa Covid-19 di tubuhnya dan berpotensi menularkan, andai dia masuk sekolah pada hari ke 15 dst. Maka 14 hari libur sekolahnya itu, tidak ada gunanya, penularan terjadi juga di sekolah, efek domino akan berlangsung, rantai penularan tidak terputus.
Untuk itu, semua orang harus bekerjasama, semua warga Indonesia harus membantu, warga harus kompak, yaitu patuh untuk tidak kemana-mana dalam 14 hari itu kecuali untuk hal yang sangat perlu.

Waktu 14 hari itu, berguna untuk saling pantau, jika ada orang yg menunjukkan gejala2 menderita serangan Covid-19, bisa segera ditangani dan penularan stop hanya pada dia, karena dia tidak kontak dgn orang lain dalam 14 hari itu.

Jadi, mari kita mengisolasi diri, untuk diri sendiri dan orang lain,  mungkin pula dalam skala besar untuk umat manusia

Mohon jelaskan kpd orang2 lain, supaya semua patuh dan pemerintah terbantu untuk stop penularan Covid-19, jika tidak, maka 14 hari libur itu percuma, 14 tahun pun tak bisa stop penularan.

Semoga kondisi dunia segera pulih. 🙏 Aamiin.

Lawan Corona

Subscribe Our Newsletter