Halaman

    Social Items

TIDAK MENGHINAKAN ILMU DIDEPAN PENGUASA--Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab علم, masdar dari عَـلِمَ – يَـعْـلَمُ yang berarti tahu atau mengetahui. Secara bahasa ilmu adalah lawan kata bodoh/jahl. Secara istilah ilmu berarti sesuatu yang dengannya akan tersingkap secara sempurna segala hakikat yang dibutuhkan.

Firman Allah :

QS. Al-Gāsyiyah : 21

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan,


Imam "THOWWUS BIN KAISAN" TIDAK MENGHINAKAN ILMU DIDEPAN PENGUASA
  
Di dalam Islam ulama memiliki peran yang sangat vital. Ulama adalah alat kontrol di tengah masyarakat. Sebutan ulama adalah sebutan kemuliaan, karena ia adalah pewaris nabi. Oleh karena itu para salaf betul-betul menjaga kemulian ilmu yang mereka bawa. Di antara bentuk menjaga ilmu yang dicontohkan para salaf adalah dengan tidak menghinakan ilmu di hadapan para penguasa dan tidak tergiur dengan harta dan kehormatan yang ditawarkan penguasa.

Di bawah ini adalah kisah seorang tabi’in yang bernama Thawus bin Kaisan Al-Yamani. Beliau paham betul izzah ilmu ini, sehingga tidak mau menghinakannya di hadapan para penguasa. Hal ini diceritakan oleh Abu Hamid Al-Ghozali di dalam kitab beliau Ihya’ Ulumuddin.

Imam Abu Hamid Al-Ghozali berkata, ”Pernah diceritakan bahwa Hisyam bin Abdul Malik datang ke Makkah dalam rangka menunaikan ibadah haji. Ketika ia memasukinya, ia berkata, ’Datangkan padaku seorang shahabat Nabi’. Maka ada yang menjawab, ’Wahai Amirul Mukminin, mereka semua sudah meninggal, tidak ada yang tersisa lagi’. Lalu ia berkata, ’(Kalau begitu) Dari kalangan tabi’in!’

Maka diundanglah Thawus Al-Yamani. Ketika ia sampai ke hadapan Amirul Mukminin, ia menanggalkan alas kakinya di pinggir karpet. Ia juga tidak memberikan salam khusus dengan menyebut gelar Amirul Mukminin. Ia hanya mengatakan, ’Assalamu’alaika, ya Hisyam’. Ia juga tidak memanggilnya dengan nama kunyah-nya (Kunyah adalah panggilan Arab dengan menggunakan abu atau ibnu) , dan langsung duduk di sebelahnya. Lalu bertanya, ’Bagaimana kabarmu, wahai Hisyam?’ Maka kontan Hisyam marah besar, bahkan sampai berniat akan membunuhnya. Lalu ia (Thawus) berkata kepadanya, ’Apa alasanmu melakukan perbuatan ini?’

Ia berkata datar, ’Apakah gerangan yang telah saya perbuat?’ Maka bertambah besarlah kemarahan Hisyam. Ia pun berkata, ’Kamu lepas sandalmu di pinggir karpetku, kamu juga tidak mencium tanganku, salam yang kamu ucapkan juga tidak mengucap kata Amirul Mukminin, kamu juga tidak menyebutkan gelar kunyah-ku, bahkan kamu langsung duduk di dekatku dan menanyakan, bagaimana kamu, wahai Hisyam.”

Maka beliau menjawab, ’Adapun perkataanmu bahwa aku lepas sandalku di tepi karpetmu, maka ketahuilah bahwa setiap hari aku juga melepasnya di hadapan Alloh sebanyak 5 kali, dan Alloh tidak menghukumku ataupun memarahiku. Sedangkan perkataanmu bahwa aku tidak mencium tanganmu, maka saya pernah mendengar Ali bin Abi Tholib berkata, ’Haram bagi seseorang untuk mencium tangan orang lain kecuali tangan istrinya yang ia cium karena dorongan syahwat atau tangan anaknya yang ia cium karena rasa sayang.’ Sedangkan perkataanmu bahwa aku tidak memberikan salam dengan menyebutmu sebagai Amirul Mukminin, maka ketahuilah bahwa tidak semua orang rela dengan kepemimpinanmu, dan aku tidak mau basa-basi dan berdusta di hadapanmu. Adapun perkataanmu bahwa aku tidak memanggilmu dengan julukan kunyahmu, maka sesungguhnya Allah telah memanggil para walinya dengan menyebut, ’Ya, Yahya, Ya Daud, Ya Isa’. Adapun dalam menyebut kunyah musuh-musuh-Nya, Alloh berfirman, ’Tabbat yada abi lahab’. Adapun perkataanmu bahwa aku langsung duduk di dekatmu, maka aku telah mendengar Ali bin Abi Tholib berkata, ’Jika kamu ingin melihat salah seorang penghuni neraka, maka lihatlah kepada orang yang duduk sedang di sekelilingnya banyak orang yang berdiri’.

Maka Hisyam berkata, ’Ia telah memberiku nasihat’.”

Begitulah para salaf mengajarkan kita dalam bersikap terhadap penguasa. Menjauhi pintu-pintu mereka dan tidak tamak terhadap dunia mereka. Salaf paham betul fitnah yang muncul terhadap din mereka jika mereka mendekat-dekat kepada pintu penguasa. Toh, jika mereka terpaksa mendatangi pintu mereka, mereka datang dengan penuh izzah dan kemuliaan tanpa menghinakan diri sebagaimana yang dicontohkan Imam Thowus bin Kaisan Al-Yamani.

TIDAK MENGHINAKAN ILMU DIDEPAN PENGUASA

AMAL JARIYAH YANG UTAMA

Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian termasuk manusia. Ketika jasad berada di alam kubur, maka tak ada lagi teman kecuali amal. 

Amal jariyah adalah sebutan bagi amalan yang terus mengalir pahalanya, walaupun orang yang melakukan amalan tersebut sudah meninggal dunia.

Amalan tersebut terus menghasilkan pahala yang terus mengalir kepadanya.

Kalau kita perhatikan ada beberapa hadits yang menyebutkan hal ini.

Dari Anas radhiallahu 'anhu (RA), Rasulullah SAW bersabda, ada tujuh pahala yang terus mengalir diterima seseorang selepas matinya. Berikut amalannya:
1. Orang yang mendirikan masjid, ia akan mendapat pahalanya selagi masjid itu digunakan orang untuk beramal di dalamnya.
2. Orang yang mengalirkan air sungai, maka ia mendapat pahala selagai ada orang yang memanfaatkan airnya.
3. Orang yang menulis mushaf Alqur'an akan mendapat pahala bagi orang yang membacanya.
4. Orang yang membuat sumur selagi ada orang yang menggunakannya.
5. Orang menanam tanam-tanaman selagi ada yang memakannya baik dari manusia atau burung.
6. Orang yang mengajarkan ilmu agama dan diamalkan oleh orang yang mempelajarinya.
7. Orang yang meninggalkan anak saleh yang senantiasa mendoakan orang tuanya dan beristighfar untuknya setelah wafat. Apabila anak diajarkan ilmu Alqur'an, maka orang yang mengajarnya akan mendapat pahala selagi anak itu mengamalkannya tanpa mengurangi pahala anak itu sendiri.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : إِلا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara:
(1) sedekah jariyah,
(2) ilmu yang diambil manfaatnya, 
(3) anak shalih yang selalu didoakan orang tuanya.” (HR. Muslim, no. 1631)

Yang dimaksud dalam hadits adalah tiga amalan yang tidak terputus pahalanya:

Secara lebih luas dan kompleks tentunya sedekat jariah tidak hanya terpaku dalam tiga hal yang utarakan dalam hadist diatas. Untuk mengerahuinya maka simak saja 10 jenis sedekah jariah sebagai ladang meraup pahala .

1. Membangun Masjid. Membangun masjid merupakan amal jariyah yg pertama. Membangun masjid atau mendermakan tanah wakaf untuk dibangunkan masjid menjadi jenis amal jariah yang dapat anda kerjakan. Sebab masjid yang dibangun di atas tanah pemberian anda akan dipakai sebagai sarana ibadah. Berdasarkan sabda Nabi Muhammad :

« مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ »

“Barangsiapa yang membangun masjid demi mencari wajah Allah, niscaya Allah bangunkan rumah baginya di surga” (Terdapat dalam Ash-Shahihain).



Tempat melakukan amalan dan perbuatan-perbuatan baik dan tentunya sangat bermanfaat dan membantu orang sekitar hal inilah yang kemudian akan menjadi ladang pahala bagi anda meskipun kelak anda meinggal dunia.

2. Menggali Sumur. Ternyata termasuk kedalam amal jariyah berikutnya adalah mengali sumur. Sebagaigama Rasulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa yang menggali sumur, (kemudian) tidaklah setiap yang memiliki ruh, baik dari kalangan manusia, jin, dan burung yang minum dari sumur tersebut, melainkan Allah (pasti) akan membalasnya kelak di hari Kiamat.”

3. Mencetak Buku yang Bermanfaat.  Mencetak buku yang bermanfaat terutama yang berhubungan dengan ilmu agama dan ajaran kebaikan menjadi salah satu jenis sedekah jariah. Ilmu yang bermanfaat yang ada didalam buku akan memberikan pahala yang mengalir kepada anda.

4. Membangun Rumah Bagi Ibnu Sabil.  Ibnu sabil atau lebih dikenal sebagai musafir, memang banyak ditemui pada masa Rasulullah. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa saat inu masih ada dan ditemui para musafir.

Karena itu mebangun sebuah rumah yang diperuntukan bagi para musafir ini juga termasuk kedalam sedekh jariah yang amalannya tidak akan terputus.

5. Sedekah yang Dikeluarkan Ketika ia Hidup dan dalam Kondisi Sehat. Sedekah atau memberikan sebagian harta secara iklas juga merupaka  salah satu jenis sedekah jariah. Sebagaimana dalam Firman Allah SWT :

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya:

 “Perumpamaan orang -orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai:tumbuh seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al- Baqarah ayat 261)

6. Ilmu yang Diajarkan. Selain buku yang bermanfaat, ilmu yang bermanfaat yang diajarkan kepada orang lain juga akan menjadu amalan dan sedekah jariah bagi anda kelak. Sebab ilmu yang bermanfaat akan senantiasa membawa seseorang menuju jalan kebaikan. Tentunya amalan nya akan erus mengalir kepada anda yang dengan ikhlas mengajarkan ilmu yang bermanfaat tadi.

7. Mushaf Al-Quran yang Diwariskan.

Dari Abu Hurairah Berkata, Beliu bersabda :

«إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ»

“Sesungguhnya termasuk amalan dan kebaikan orang mukmin yng masih mengalir pasca kematiannya adalah ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, atau anak shalih yang ditinggalkannya, atau mushhaf al-Qur`an yang diwariskannya, atau masjid yang dibangunnya, atau rumah singgah bagi para musafir yang dibangunnya, atau sungai yang dialirkannya, atau sedekah yang dkeluarkan dari hartanya saat sehatnya dan di masa hidupnya, (semua itu) masih mengalir kepadanya pasca kematiannya. ” (HR. Ibnu Majah; Shahih at-Targhib).

8. Mendirikan Panti Asuhan. Dalam Al-Quran tercacat sebanyak 32 kali mengenai anak yatim disebut. Tentunya ini merupakan berkah bagi mereka dan sekaligus menjadi ladang amalan bagi kita.

Sebagaimana salah satu jenis sedekah jariah yang akan selalu mengalirkan pahala kepada anda ialah membangun panti asuhan, merawat dan memberi maka para anak yatim piatu.

Sebab dalam islam anak yatim memiliki derajat utama dan yang paling haris diperhatika setelah orang tua kandung  sebagaimana dalam firman Allah SWT berikut :

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, …,”
(Q.S. An Nisaa 4:36)

9. Memberi Makan dan Minum.

Berdasarkan sabda beliau :

« أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ سَقْيُ الْمَاءِ »

“Sebaik-baik sedekah adalah memberi air minum.” (HR. Muslim).

Sesunggunya Nabi ketika ditanya bagaimana islam yang baik itu. Beliau menjawab :

« تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ »

“Engkau beri makan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal maupun yang tidak kamu kenal.” (Terdapat dalam Ash-Shahihain).

10. Membuat Majelis Dzikir. Membuat majelis Dzikir menjadi salah satu jenis amal jariah yang pahalanya akan mengalir kepada anda. Sebab semua kegiatan yang dilakukan dalam majelis dzikir merupakan kegiatan yang berlandaskan ajaran agama islam. Maka sudah pasti terkandung nilai.kebaikan dan kebajikan yang mendatangkan pahala bagi para pelakunya.

10 jenis sedekah jariah sebagai ladang meraup pahala. Tentu akan semakin menambah pengetahuan dan referensi bagi anda untuk dapat semakin memahami mengenai agama islam. Semoga semakin membuat kita senantiasa untuk berbuat kebaikan dan mengamalkan ajaran islam.

Wallalhu a'lam
______

AMAL JARIYAH YANG UTAMA

ubud dunia


بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم 

 
HATI-HATI TIPU DAYA DUNIA--Dunia ini penuh dengan tipuan. Banyak orang yang sudah masuk ke dalam perangkapnya. Dunia terkadang melalaikan kita dalam mengingat akhirat. Membuat kita lalai terhadap kewajiban-kewajiban yang seharusnya dilaksanakan.


Firman Allah:
قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقَىٰ وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا
Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirot itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun. ( QS. An Nisaa : 77)

Ats Tsauri berkata, dari Mughiroh, dari Abul ‘Aliyah, dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,
بشر هذه الأمة بالسناء والرفعة والدين والتمكين في الأرض فمن عمل منهم عمل الآخرة للدنيا لم يكن له في الآخرة من نصيب
“Umat ini diberi khabar gembira dengan kemuliaan, kedudukan, agama dan kekuatan di muka bumi. Barangsiapa dari umat ini yang melakukan amalan akhirat untuk meraih dunia, maka di akhirat dia tidak mendapatkan satu bahagian pun.” (HR. Ahmad, )

قَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُعْطِينِى الْعَطَاءَ فَأَقُولُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّى. حَتَّى أَعْطَانِى مَرَّةً مَالاً فَقُلْتُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « خُذْهُ وَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلاَ سَائِلٍ فَخُذْهُ وَمَا لاَ فَلاَ تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ ».
Rosululloh shollallahu ‘alaihi wa sallam memberikan suatu pemberian padaku. Umar lantas mengatakan, “Berikan saja pemberian tersebut pada orang yang lebih memerlukan (lebih miskin) dariku. Sampai beberapa kali, beliau tetap memberikan harta tersebut padaku.” Umar pun tetap mengatakan, “Berikan saja pada orang yang lebih memerlukan (lebih miskin) dariku.” Rosululloh shollallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Ambillah harta tersebut dan harta yang semisal dengan ini di mana engkau tidak merasa mulia dengannya dan sebelumnya engkau pun tidak meminta-mintanya. Ambillah harta tersebut. Selain harta semacam itu (yang di mana engkau punya keinginan sebelumnya padanya), maka biarkanlah dan janganlah hatimu bergantung padanya.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ
“Barangsiapa yang niatnya adalah untuk memperolehi akhirot, maka Alloh akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk memperolehi dunia, maka Alloh akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi Syeikh Al Albani mengatakan bahwa hadith ini sohih.


Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَوْ رَأَيْتُمُ الْاَجَلَ وَمَسِيْرَهُ لَاَبْغَضْتُمُ اْلاَمَلَ وَغُرُوْرَهُ ، وَمَا مِنْ أَهْلِ بَيْتٍ إِلاَّ وَمَلَكُ الْمَوْتِ يَتَعَاهَدُهُمْ فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّتَيْنِ ، فَمَنْ وَجَدَهُ قَدِ انْقَضَى أَجَلُهُ قَبَضَ رُوْحَهُ ، فَإِذَا بَكَى أَهْلُهُ وَجَزَعُوْا قَالَ :لِمَ تَبْكُوْنَ ؟ وَلمَ تَجْزَعُوْنَ ؟ فَوَ اللهِ مَا نَقَصْتُ لَكُمْ عُمُرًا وَلاَ حَبَسْتُ لَكُمْ رِزْقًا ! مَا لِي ذَنْبٌ ، وَإِنَّ لِي فِيْكُمْ لَعَوْدَةٌ ثُمَّ عَوْدَةٌثُمَّ عَوْدَةٌ حَتَّى لاَ أُبْقِي مِنْكُمْ أَحَدًا . (الديلمي – عن زيد بن ثابت)

“Sekiranya kalian dapat melihat jarak antara ajal dengan diri kalian, pasti kalian membenci angan-angan dan tipu daya dunia. Tidak ada sebuah rumah pun tanpa kehadiran malaikat secara rutin ke rumah itu dua kali setiap hari. Bila seseorang dari keluarga di rumah itu telah sampai ajalnya, maka malaikat mencabut nyawanya. Jika ada keluarganya yang menangis dan bersedih, maka malaikat berkata, “Mengapa kalian menangis dan bersedih? Demi Allah, saya tidak mengurangi umurmu dan tidak juga merampas rezekimu. Aku tidak punya dosa terhadap dirimu. Aku akan datang secara berkala kepada kalian sehingga tidak aku sisakan seorang pun di antara kalian, melainkan pasti aku cabut nyawanya.” (HR. Dailami dari Zaid bin Tsabit)

Manusia tidak diberi kemampuan oleh Allah untuk dapat melihat jarak antara dirinya dengan ajalnya. Tujuannya agar manusia tidak hidup dalam kondisi ketakutan terus- menerus. Sebab kondisi ketakutan yang mencengkram jiwa manusia mengakibatkan rasa putus asa, tidak punya semangat hidup, tidak punya cita-cita bahkan tidak punya selera untuk makan sekalipun. Artinya manusia akan kehilangan selera dan daya tahan hidup.

Lalu apa fungsi manusia dijadikan lupa terhadap kematiannya? Hal ini terjawab dengan sendirinya dalam hadits di atas, yaitu supaya manusia memiliki angan-angan dan harapan-harapan palsu. Dengan adanya angan-angan dan harapan palsu pada diri manusia, muncul semangat yang berlebihan untuk mengejar kesenangan dunia dan melupakan akhirat. Hal inilah yang Allah peringatkan dalam firman-Nya:

 متاع قليل ثم مأواهم جهنم وبئس المهادلا يغرنك تقلب الذين كفروا في البلاد
 
Wahai Muhammad, janganlah kamu tertipu oleh keberhasilan usaha orang-orang kafir yang mendatang­kankeuntungan besar di Madinah. Semua keberhasilan itu hanyalah kesenangan sementara bagi mereka di dunia. Kemudian di akhirat kelak, tempat tinggal mereka adalah neraka Jahanam. Neraka Jahanam adalah seburuk-buruk tempat tinggal.” (QS. Ali-Imran: 196-197)

Pada ayat di atas dijelaskan bahwa, seorang Nabi pun tidak terlepas dari peringatan Allah untuk tidak tertipu oleh pola hidup orang-orang kafir yang dituntun oleh angan-angan dan harapan-harapan palsu dalam mengejar kesenangan dunia. Sebab gara-gara angan-angan dan harapan-harapan palsu inilah orang-orang kafir dengan sengaja melupakan akhirat. Akibat melupakan akhirat dan mengejar kesenangan duniawi sepuasnya, membuat orang-orang kafir merasa terlena melakukan segala macam bentuk perbuatan dosa dari yang kecil sampai yang besar. Bahkan tidak sedikit orang yang mengaku muslim, pandai baca Al-Qur`an, mahir membaca hadits, tidak mampu menghindarkan dirinya dari tipuan angan–angan dan gemerlapnya kemewahan dunia.

Keterangan di atas dengan tegas mengingatkan setiap manusia, muslim maupun kafir, bahwa mereka senantiasa dikunjungi oleh malaikat maut setiap hari dua kali. Ketika tiba ajalnya, malaikat maut ini tanpa basa-basi langsung mencabut nyawa yang bersangkutan. Ketika keluarga sang mayit menangis dan bersedih, malaikat maut pun berkata:

“Kenapa kalian menangis dan bersedih. Demi Allah, saya tidak mengurangi umurmu dan tidak juga merampas rezeki-mu. Aku tidak punya dosa terhadap dirimu. Aku akan datang secara berkala kepada kalian sehingga tidak aku sisakan seorang pun di antara kalian, melainkan pasti aku cabut nyawanya.”

HATI-HATI TIPU DAYA DUNIA

Subscribe Our Newsletter